Jumat, 23 Juni 2017

Resensi - Islam Tuhan Islam manusia, spiritualitas di zaman kacau

id Oleh Dyah Sulistyorini
Buku kumpulan essay karya intelektual muslim Haidar Bagir berjudul "Islam Tuhan Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau" menawarkan solusi untuk mengembalikan agama sebagai sumber cinta kasih.

Buku ini merupakan hasil perenungan Haidar Bagir dalam kurun 10 tahun terakhir yang menunjukkan konsistensinya menjawab tantangan-tantangan dan pertanyaan aktual terutama masalah agama. 

Kumpulan opini dari doktor jurusan filsafat tersebut setidaknya sudah memenuhi tiga kriteria yakni sistematika buku yang berurutan, argumentasinya kuat serta ketajaman gagasan didukung dengan referensi yang kaya.

Buku setebal 288 halaman ini tidak ada ilustrasi didalamnya yang mungkin saja bisa menjadi daya tarik pembaca. Meskipun demikian seolah berhasil ditebus dengan dukungan komunikasi pemasaran terpadu lewat penjelasan-penjelasan di forum tatap muka serta kontinuitas unggahan audio video, bagan dan foto di media sosial. 

Buku ini dibuka dengan "Aku dan Islamku" sebelum Kata Pengantar dan Daftar Isi. Sub judul "Aku dan Islamku" seolah menjawab rasa ingin tahu siapa sebenarnya penulis buku dan bagaimana pandangannya tentang Islam. 

Sub judul "Aku dan Islamku" berisi poin-poin ringkas sebanyak 10 butir yang antara lain berisi tentang kesadaran penulis bahwa akal adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. 

Dilanjutkan dengan poin kedua tentang kesadaran bahwa akal memiliki keterbatasan. Poin berikutnya adalah pandangan penulis bahwa rasionalitas bukanlah satu-satunya soko-guru keilmiahan. 

Selain itu, penulis juga meletakkan poin tentang objektivitas dan kesadaran bahwa dirinya ikut menjadi bagian mata rantai yang melanjutkan akumulasi hasil-hasil pengetahuan. 

Selanjutnya Haidar Bagir menulis bahwa prinsipnya dalam berislam adalah keterbukaan, pluralisme dan demokrasi serta mengedepankan dialog yang produktif, konstruktif dan saling memperkaya. 

Poin lainnya adalah tentang upaya penulis untuk memisahkan unsur-unsur yang sakral dari yang profan (lawan kata sakral). Profan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan. 

Masih pada bagian depan dari buku itu, penulis mengatakan bahwa Islam selalu bisa menjawab tantangan zaman. Sebagai informasi, Haidar Bagir masuk dalam daftar 50 teratas "Muslim Paling Berpengaruh di Dunia" versi "The Muslim 500" oleh Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berkedudukan di Amman, Jordania.

Haidar Bagir mengatakan dalam bukunya bahwa dia menggunakan pendekatan hermeneutic terhadap teks-teks Al Quran, Sunnah, dan tradisi Islam lainnya. 

Teori hermeneutic adalah teori yang mempelajari tentang pemahaman, terutama melalui interpretasi yang sistematis dari sebuah perilaku atau aksi, dan teks. 

Pada awalnya teori ini digunakan untuk menginterpretasikan isi kitab suci Bible. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi melalui interpretasi manusia tentang apa yang mereka alami dan ketahui. 

Terbagi lima bagian 
Secara keseluruhan, isi buku ini dibagi kedalam lima bagian yakni dimulai dengan masalah, disusul bagian dua berisi khazanah pemikiran Islam, pada bagian ketiga tentang dialog intra Islam dan bagian empat tentang dialog Islam, budaya dan peradaban. Buku ini ditutup dengan solusi (bagian lima) yang berisikan tentang Islam, cinta dan spiritualitas.

Menurut seorang peneliti Wahyudi Akmaliyah yang menjadi narasumber bedah buku tersebut di Jakarta, setidaknya buku ini menuliskan tiga persoalan utama. Tiga persoalan itu adalah "dunia yang mengalami fase peluruhan" (halaman 17).

Persoalan kedua adalah menguatnya radikalisme dan takfirisme. Sedangkan persoalan ketiga adalah hadirnya teknologi yang mengakibatkan orang mudah tersesat dan disorientasi yang ditandai dengan kemudahan memperoleh informasi yang dicari namun kehilangan tingkat refleksi dan kedalaman atas informasi.

Selanjutnya Wahyudi Akhmaliyah mengatakan bahwa buku ini menawarkan resep beragama yakni revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dengan meletakkan budaya sebagai tempat persemaian seluruh aspek kehidupan. Selain itu resep dalam konteks beragama adalah menawarkan gagasan wajah kemanusiaan Islam.

Sementara itu, menurut Moqsith Ghazali, doktor bidang Tafsir Al Quran dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, buku ini adalah cerminan ketaqwaan Haidar Bagir lewat kemampuannya menuliskan karya yang membahagiakan. 

Salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu mengapresiasi karya Haidar Bagir dan menyebutnya memiliki kemewahan "waktu untuk menulis" yang tidak dimiliki semua orang. 

Kerinduan Pemikiran 
Buku ini sempat menuai kontroversi di awal peluncurannya. Tercatat kehadiran Haidar Bagir sempat ditentang oleh kelompok tertentu menjelang bedah buku tersebut di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta awal Mei lalu. 

Namun demikian untuk acara bedah buku selanjutnya yang dilaksanakan di sembilan universitas di Tanah Air justru mendapat sambutan positif dari civitas akademika. Antusiasme mereka tercermin dari jumlah kehadiran ratusan mahasiswa setiap digelar acara serupa di tiap perguruan tinggi. 

Kondisi seperti ini, menurut Putut Widjanarko, Vice President Operation Mizan Publika, dianggapnya sebagai gejala adanya kerinduan pemikian tentang wacana-wacana Islam.

"Diskusi ilmiah di kampus-kampus yang dihadiri ratusan mahasiswa menunjukkan kerinduan pemikiran tentang wacana Islam dan sekaligus gairah pemikiran radikal dapat ditangkal," kata Putut yang bertindak salaku moderator acara bedah buku tersebut di Auditorium Widya Graha Lantai 2 Gedung Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. 

Buku ini juga mendapat sambutan tertulis dari dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Gunawan Muhamad, Mochtar Pabottingi, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif (Buya) dan Franz Magnis-Suseno. 

Menurut Syafii Maarif, melalui buku tersebut Haidar Bagir telah berusaha menyuarakan gagasan-gagasan yang reflektif, segar dan degan tujuan agar tumbuh kultur lapang dada dalam bertoleransi dan menyikapi perbedaan pendapat yang berbeda pandangan, termasuk juga mudah mengkafirkan seseorang dalam lingkungan agama yang sama. 

Sebagai sebuah kumpulan essay tentu tidak semua generasi millennial tertarik membaca, maka jangan heran bila karya bagus seperti ini sangat jarang mendapat tempat di media massa. 

Pada akhirnya harus disadari bahwa tidak ada satu-satunya kebenaran yang mutlak, semuanya adalah kebenaran yang sifatnya relatif sehingga buku ini seolah-olah diharapkan mampu menyiapkan masyarakat majemuk yang siap untuk berbeda pendapat.

*) Penulis adalah karyawati Perum LKBN Antara

Editor: Hence Paat

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Top News